Panduan

Cara membuat website yayasan, dari rencana isi hingga tampil di Google.

Diperbarui · Penulis: Kaiser Khan

Jawaban singkat Ditinjau

Bagaimana cara membuat website yayasan?

Tentukan tujuan dan pengunjung utama, susun halaman inti (profil dan legalitas, program, laporan, kegiatan, cara mendukung, dan kontak), daftarkan domain atas nama organisasi, lalu pilih cara membangun: pembuat website gratis, WordPress di hosting, atau bantuan pengembang. Setelah diuji di ponsel, daftarkan ke Google Search Console dan tetapkan siapa yang memperbarui isi setiap bulan.

Langkah 1: Apa tujuan website dan siapa pengunjungnya?

Tuliskan satu atau dua tujuan utama, misalnya "calon relawan bisa mendaftar" atau "calon penerima manfaat memahami syarat program". Lalu tentukan pengunjung utama: donatur, relawan, penerima manfaat, mitra, atau pemerintah. Tujuan inilah yang menentukan halaman dan tombol yang paling penting.

Website yang mencoba melayani semua orang sekaligus biasanya membingungkan. Pilih satu tindakan utama untuk setiap kelompok pengunjung. Misalnya, donatur perlu melihat laporan dan cara menyumbang, sedangkan calon relawan perlu jadwal dan formulir.

Langkah 2: Halaman apa saja yang wajib ada di website yayasan?

Halaman inti website yayasan adalah Beranda, Tentang Kami (profil, legalitas, dan pengurus), Program, Laporan, Kegiatan atau Berita, Dukung Kami (donasi, relawan, kemitraan), dan Kontak. Tambahkan kebijakan privasi jika website mengumpulkan data melalui formulir.

Legalitas membangun kepercayaan. Cantumkan nama resmi yayasan, nomor SK pengesahan badan hukum, dan alamat. Laporan sebaiknya mencantumkan periode dan sumber angka. Foto penerima manfaat hanya dipublikasikan dengan izin.

Diagram struktur website yayasan: Beranda terhubung ke Tentang Kami, Program, Laporan, Kegiatan, Dukung Kami, dan Kontak, masing-masing dengan tiga halaman turunan.
Contoh struktur menu website yayasan. Sesuaikan dengan program dan kapasitas pengelola.
Halaman inti website yayasan
HalamanIsi utamaMengapa penting
BerandaRingkasan siapa Anda, program utama, tombol tindakanPengunjung memutuskan dalam beberapa detik apakah halaman ini relevan
Tentang KamiVisi misi, sejarah, pengurus, nomor SK badan hukumMembuktikan organisasi nyata dan dapat dihubungi
ProgramSatu halaman per program: tujuan, sasaran, wilayah, syarat, cara ikutMenjawab pertanyaan yang paling sering dicari
LaporanLaporan kegiatan dan keuangan per periodeTransparansi bagi donatur dan mitra
Kegiatan/BeritaKabar terbaru, agenda, dokumentasi berizinMenunjukkan organisasi masih aktif
Dukung KamiCara donasi, pendaftaran relawan, kemitraanMengubah minat menjadi tindakan
KontakFormulir, email resmi, alamat, jam layananMemudahkan pertanyaan diteruskan ke orang yang tepat
Kebijakan privasiData apa yang dikumpulkan dan untuk apaDiperlukan jika ada formulir; lihat panduan UU PDP

Langkah 3: Bagaimana memilih domain website yayasan?

Pilih nama yang pendek, mudah dieja, dan sama dengan nama organisasi. Domain .or.id khusus organisasi dan paling murah, sekitar Rp50.000 per tahun, tetapi memerlukan dokumen. Domain .id, .org, atau .com dapat dipakai tanpa dokumen organisasi. Daftarkan domain atas nama organisasi, bukan atas nama pribadi atau vendor.

Simpan akses akun domain pada setidaknya dua pengurus dan catat tanggal perpanjangannya. Domain yang kedaluwarsa dapat membuat website dan email berhenti bekerja. Baca panduan domain .or.id untuk yayasan untuk syarat dokumen, dan rincian biaya website yayasan untuk perbandingan harga.

Langkah 4: Pilih cara membangun website

Ada tiga pilihan umum: pembuat website gratis seperti Google Sites, WordPress di hosting sendiri, atau website yang dibuat pengembang. Pilih berdasarkan siapa yang akan memperbarui isi dan fungsi yang dibutuhkan, bukan hanya harga atau tampilan.

Untuk website profil dengan beberapa halaman, pembuat website gratis sering sudah cukup. Jika ada pendaftaran, jadwal, atau data yang perlu dikelola tim, website perlu dirancang bersama alur kerjanya. Baca perbandingan aplikasi khusus dan alat siap pakai sebelum memutuskan.

Perbandingan cara membangun website yayasan
CaraCocok untukPerlu diperhatikan
Pembuat website gratis (misalnya Google Sites)Profil sederhana yang diperbarui pengurus sendiriDesain dan fitur terbatas; paket gratis WordPress.com menampilkan iklan
WordPress di hosting sendiriOrganisasi dengan banyak artikel atau halaman programPerlu pembaruan rutin, cadangan, dan keamanan
Dibuat pengembangWebsite yang terhubung dengan formulir, jadwal, atau dataPastikan kode, akun, dan dokumentasi diserahkan ke organisasi

Sumber dan tanggal: Google Sites: domain kustom (dicek) ; WordPress.com: harga (dicek)

Langkah 5: Tulis isi yang jelas dan dapat dipercaya

Tulis dalam bahasa Indonesia yang sederhana. Setiap halaman program menjawab: apa programnya, siapa yang bisa ikut, di mana, syaratnya apa, dan bagaimana caranya. Hindari klaim yang tidak bisa dibuktikan, testimoni tanpa izin, dan angka tanpa sumber atau periode.

Gunakan judul yang menjelaskan isi, misalnya "Beasiswa Anak Nelayan Cilacap 2026", bukan hanya "Program". Judul yang spesifik membantu pengunjung dan mesin pencari memahami halaman. Letakkan jawaban terpenting di paragraf pertama.

  • Satu halaman untuk satu program atau topik.
  • Tanggal pembaruan pada halaman yang informasinya bisa berubah.
  • Teks alternatif (alt) yang menjelaskan isi foto.
  • Tombol dengan kata kerja yang jelas, misalnya "Daftar jadi relawan".

Langkah 6: Uji di ponsel, kecepatan, dan kemudahan akses

Sebagian besar pengunjung membuka website dari ponsel. Uji setiap halaman di layar kecil, pastikan teks terbaca tanpa perbesaran, tombol mudah disentuh, dan formulir bisa dikirim. Kompres foto sebelum diunggah agar halaman cepat dimuat di jaringan seluler.

Minta dua atau tiga orang di luar tim mencoba tugas nyata, misalnya mencari syarat program lalu menghubungi pengurus. Catat di mana mereka bingung. Periksa juga kontras warna dan label formulir agar website dapat digunakan lebih banyak orang.

Langkah 7: Daftarkan website ke Google dan mesin pencari lain

Setelah website aktif, verifikasi di Google Search Console dan kirim sitemap XML agar halaman lebih cepat ditemukan. Lakukan hal yang sama di Bing Webmaster Tools. Jika yayasan memiliki kantor yang dapat dikunjungi, buat atau klaim Profil Bisnis Google dengan alamat dan jam yang benar.

Pendaftaran membantu Google menemukan halaman, tetapi tidak menjamin peringkat. Isi yang berguna, judul yang jelas, dan tautan dari organisasi mitra atau media lokal lebih berpengaruh. Periksa laporan Search Console setiap bulan untuk melihat halaman yang belum terindeks.

Sumber dan tanggal: Google Search Console (dicek) ; Bing Webmaster Tools (dicek)

Langkah 8: Tetapkan pengelola dan jadwal pembaruan

Tunjuk satu penanggung jawab isi dan satu cadangan. Buat jadwal sederhana: kabar kegiatan setiap bulan, laporan setiap periode, dan pemeriksaan tautan serta formulir setiap tiga bulan. Simpan kata sandi di pengelola kata sandi dan hapus akses pengurus yang sudah tidak aktif.

Website yang tidak diperbarui selama bertahun-tahun dapat mengurangi kepercayaan. Lebih baik sedikit halaman yang selalu benar daripada banyak halaman yang usang. Jika kapasitas tim terbatas, tulis status yang jujur, misalnya "pendaftaran dibuka kembali Januari".

Jika Anda memerlukan bantuan membangun atau merapikan website, Kode Nirlaba menyediakan pembuatan website yayasan tanpa biaya jasa untuk proyek yang diterima.

Pertanyaan yang sering diajukan

Berapa lama membuat website yayasan?

Website profil sederhana dengan materi yang sudah siap dapat selesai dalam beberapa hari hingga beberapa minggu. Waktu terlama biasanya menyiapkan tulisan, foto, dan persetujuan pengurus, bukan pembuatan teknisnya.

Apakah website yayasan wajib memakai domain .or.id?

Tidak wajib. Domain .or.id menandakan organisasi dan harganya murah, tetapi memerlukan dokumen. Domain .id, .org, atau .com juga dapat dipakai. Yang terpenting, domain terdaftar atas nama organisasi.

Apakah bisa membuat website yayasan gratis?

Bisa, dengan pembuat website gratis atau bantuan jasa pengembangan gratis. Biaya yang biasanya tetap ada adalah domain sendiri. Baca pilihan website gratis untuk yayasan.

Apakah perlu mencantumkan nomor legalitas di website?

Sangat dianjurkan. Nama resmi, nomor SK pengesahan badan hukum, dan alamat membantu donatur, mitra, dan program seperti Google for Nonprofits memeriksa identitas organisasi.

Apa yang sebaiknya dibaca selanjutnya?

Gunakan panduan terkait untuk menyiapkan langkah berikutnya. Jika masih ragu menentukan kebutuhan, ceritakan kendala organisasi kepada kami. Mulai dengan contoh alur kerja tanpa menyertakan data pribadi penerima manfaat.